Tehnik lukis
by Odenkediri , at 19:30 , have 0
comments
JURUS HADI: Achmad Hadi Wiyono mendemonstrasikan keterampilan melukis kaca.
Hadi Koco, Mantan Tukang Sablon, Kuasai Teknik Lukisan Terbalik pada Kaca
Hadi Koco mengaku bosan melihat lukisan yang melulu diaplikasikan pada media kanvas. Tanpa latar belakang pendidikan seni, jemarinya menciptakan variasi warna serta lukisan yang cenderung realis. Medianya adalah kaca.
* * *
YANG dilakukan Achmad Hadi Wiyono, nama asli Hadi Koco, bukan sekadar mengganti kanvas dengan kaca. Tekniknya pun tak sekadar menyapukan kuas serta membaurkan warna. Ya, dia menguasai jurus unik dalam menggambar. Jika umumnya para juru gambar beraksi dari depan, mantan tukang sablon itu melukis secara terbalik, dari sisi belakang kaca.
Sejak kecil, Hadi memang suka bereksperimen dengan berbagai teknik melukis. ’’Saya suka aneh-aneh. Waktu itu pakai karbon baterai dan kapas,’’ terang warga Jalan Gogor tersebut. Oleh Hadi, baterai ditumbuk lantas dikeluarkan bubuk karbonnya. Serbuk itu dicampur air dan dibalurkan pada kapas untuk membikin gambar.
Setelah dewasa, pada 1999, lelaki kelahiran 25 Desember 1965 itu mencoba peruntungan di dunia sablon. Dalam bisnis tersebut, Hadi tidak hanya menemukan gairah. Kesibukan itu juga menjadi kewajiban yang kudu dilakoninya untuk menyambung hidup. Sebab, sejak punya usaha, lelaki penghobi karaoke itu tinggal bersama adik perempuannya.
Hadi sejatinya punya kekurangan fisik. Pria yang mahir berpuisi tersebut pernah mengalami kecelakaan saat bermotor semasa remaja. Jalannya pun tidak sempurna. Karena kedua kakinya mengecil dan tidak kuat dipakai sebagai tumpuan, Hadi harus berjalan memakai tongkat. Tapi, di tangan Hadi, keterbatasan itu tidak dianggap sebagai hal besar.
Meski begitu, jenuh tak segan melanda. Pada 2000, Hadi mulai banting setir ke dunia seni lukis. ’’Saya mikir mau buat apa lagi. Ya, saya coba-coba lukis,’’ kata pria yang ingin mengadakan pameran tunggal tersebut.
Sebelum betul-betul nyemplung ke jagat seni rupa, Hadi melakukan riset kecil-kecilan. Menurut dia, dunia lukis kanvas sudah terlalu mainstream. Karena itu, tebersitlah ide mengganti kanvas dengan kaca. ’’Kan belum banyak yang bisa. Makanya saya tertarik,’’ ucapnya.
Ide kreatif Hadi pun kembali menggelegak. Dia melukis dengan cara berbeda. Anak ke-8 di antara 11 bersaudara itu melukis dengan teknik terbalik. Ketika menggambar, tangannya terulur pada bawah bidang kaca. ’’Nggak ada belajar khusus. Ya spontan aja bisa gambar terbalik, hehe,’’ tuturnya sambil tertawa kecil.
Jurus itu didemokan pada Jumat (24/10). Dia menggambar pada bidang kaca berukuran 60 x 80 sentimeter. Oleh Hadi, kaca itu ditopang dengan gabus pada dua sisinya sehingga bagian tengah melayang. Dan, pada bagian yang melayang itulah, tangan Hadi menelusup dan menggambar dari bawah.
Hari itu, Hadi ingin menggambar mobil Mercedes-Benz. Awalnya adalah sketsa dengan spidol lukis hitam. Tiap lekukan dan detail dibuat secara terbalik di bagian bawah kaca. Jika ingin ada garis halus, dia tinggal memakai spidol bekas.
Tak perlu menunggu lama, sketsa itu rampung. Tahap selanjutnya adalah pewarnaan. Ini pun terbilang unik dan tidak lazim. Seniman yang ikut pameran Penjinak Kaca di Tembi, Jogjakarta, beberapa bulan lalu itu memakai jari. Dia tidak memakai kuas.
Campuran cat minyak dan bahan racikannya lantas disapu menggunakan jari. ’’Kalau pakai kuas, hasilnya malah jelek. Banyak serat, jadinya nggakrata. Jadi, kerjanya ya pakai jari saja,’’ ungkap pelukis yang pernah diajak pameran oleh anggota DPR di Hotel Garden Palace tersebut.
Menurut dia, melukis di kaca punya tingkat kerumitan sendiri. Ada cara mencampur warna sendiri. Cat minyak pun tak cukup. Meski warnanya bagus, cat tidak bisa menempel. Nah, cat racikan Hadi begitu halus. Warna dasar, gradasi, hingga efek pantulan cahayanya sempurna. Paduan warnanya kian lembut. Catnya pun halus. Mulus.
Teknik itu pun pas dengan karakter lukisan Hadi yang mengutamakan kesempurnaan alias realisme. Bahkan, lukisan Presiden Soekarno dan Nelson Mandela tampak seperti cetakan gambar yang dipigura. Tiap warna begitu hidup, detail, dan berkarakter. Nyaris tak ada beda dengan cetakan di foto.
Beberapa orang sempat mengira Hadi hanya menempelkan poster. ’’Biasanya, yang dianggap bukan lukisan itu gambar-gambar bertema otomotif,’’ kata lelaki berjuluk Puisi Berdarah saat masih sekolah di SMP Muhammadiyah 15 Surabaya itu.
Kepiawaian Hadi membuatnya kebanjiran order. Bahkan, karya pertamanya, Belimbing, laku dibeli orang Australia. Padahal, lukisan itu pecah pada salah satu sisi kacanya karena Hadi lupa memakaikan bingkai.
Karya Hadi pun bersanding dengan sejumlah pelukis papan atas. Pada Pasar Seni Lukis Indonesia, 3–13 Oktober, lukisannya dipamerkan bersamaan dengan karya maestro pelukis tanah air seperti Kartika Affandi, Joko Pekik, dan Nasirun. Karena keterampilannya itu, Hadi juga sudah berkeliling Nusantara.
Dalam setahun, Hadi menghasilkan 35 hingga 50 lukisan. Itu belum termasuk lukisan kecil. ’’Pernah sekali saya sampai diusir gara-gara melukis. Banyak penonton, bikin jalan jadi macet,’’ katanya lantas terkekeh. Itu terjadi saat dia mendemonstrasikan keahliannya di lobi Hotel Sultan, Jakarta.
Kini, dengan segala keterbatasan, Hadi tetap ingin berkarya. Di rumah kontrakannya, Jalan Gogor, seluruh lukisan pesanan kolektor dirampungkan.
Tehnik lukis - written by
Odenkediri , published at
19:30 . And have 0
comments